![]() |
| Ilustrasi (Sumber: Gemini) |
Dalam hidup, tidak semua hal bisa kita pahami dengan cepat. Ada nasihat yang perlu ditanam terlebih dahulu dengan direnungkan, dirawat, dan diberi waktu. Tulisan ini adalah sebuah nasihat tentang "jangan gila jabatan, amanah itu sulit", yang semoga bisa menjadi benih kecil menuju kebijaksanaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap menyaksikan berbagai dinamika manusia ketika berhadapan dengan jabatan. Di lingkungan kerja, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, bahkan lingkup keluarga sekalipun, jabatan sering kali menjadi sesuatu yang diperebutkan. Tidak jarang, seseorang yang awalnya terlihat sederhana dan bersahaja berubah sikap ketika diberi sedikit kekuasaan. Cara bicara menjadi berbeda, sikap menjadi kaku, dan jarak dengan sesama perlahan tercipta. Fenomena ini begitu dekat dengan keseharian kita, sampai-sampai sering dianggap lumrah, padahal sesungguhnya menyimpan persoalan yang dalam.
Jabatan memang tampak menarik. Ia menghadirkan kehormatan, pengaruh, dan pengakuan. Namun, di balik semua itu, jabatan sejatinya bukanlah hadiah, melainkan titipan. Banyak orang melihat jabatan sebagai puncak keberhasilan, padahal ia justru merupakan awal dari tanggung jawab yang jauh lebih berat. Dari sinilah nasihat penting itu muncul: jangan gila jabatan, karena amanah itu sulit.
Nasihat ini mengandung gagasan pokok bahwa mengejar jabatan demi ambisi pribadi sering kali menutup kesadaran akan besarnya beban moral yang menyertainya. Jabatan bukan sekadar kursi empuk atau nama yang tercantum di papan struktur organisasi. Ia adalah kepercayaan yang menuntut kejujuran, ketulusan, dan kesiapan untuk berkorban. Ketika seseorang terlalu terobsesi pada jabatan, yang dipikirkan sering kali hanya tentang bagaimana meraih posisi tersebut, bukan bagaimana menjalankannya dengan benar.
Makna dari nasihat ini menjadi penting karena banyak kerusakan sosial berawal dari kesalahpahaman tentang jabatan. Ketika jabatan diperlakukan sebagai alat untuk kepentingan diri sendiri, maka amanah berubah menjadi beban yang diabaikan. Keputusan diambil bukan berdasarkan keadilan, melainkan keuntungan. Pelayanan berubah menjadi formalitas. Kepemimpinan kehilangan ruh keteladanan. Semua itu berakar dari kegilaan pada jabatan, bukan kesadaran akan amanah.
Amanah itu sulit karena ia menuntut konsistensi antara kata dan perbuatan. Amanah tidak berhenti pada janji di awal, tetapi diuji setiap hari melalui sikap, keputusan, dan cara memperlakukan orang lain. Amanah menuntut keberanian untuk bersikap adil meskipun tidak populer, serta keikhlasan untuk bekerja meski tidak selalu dipuji. Tidak semua orang siap dengan ujian semacam ini, itulah sebabnya jabatan seharusnya diterima dengan rasa takut dan tanggung jawab, bukan dengan euforia berlebihan.
Di titik ini, setiap pembaca patut berhenti sejenak dan bercermin. Pernahkah kita menginginkan sebuah posisi lebih karena gengsi daripada kontribusi? Pernahkah kita merasa kecewa bukan karena gagal berbuat baik, tetapi karena tidak terpilih atau tidak diakui? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menyadarkan. Bisa jadi, dalam diri kita tersimpan ambisi yang belum sepenuhnya jujur kita akui.
Refleksi personal ini penting agar kita tidak terjebak pada ilusi jabatan. Bukan berarti kita harus menolak tanggung jawab atau menghindari peran kepemimpinan, tetapi lebih kepada menata niat. Jika suatu saat kita diberi amanah, apakah kita siap memikulnya dengan penuh tanggung jawab? Jika belum, mungkin yang perlu dikejar bukanlah jabatannya, melainkan kapasitas diri dan kelapangan hati.
Pada akhirnya, nasihat “jangan gila jabatan, amanah itu sulit” adalah undangan untuk berpikir lebih dalam tentang makna posisi dan tanggung jawab dalam hidup. Ia mengajak kita untuk memandang jabatan dengan kacamata kesadaran, bukan ambisi semata. Mungkin dengan cara itulah kita bisa lebih bijak: tidak tergesa mengejar posisi, tidak silau oleh kekuasaan, dan lebih siap ketika amanah benar-benar datang menghampiri.
Karena sejatinya, bukan seberapa tinggi jabatan yang kita raih yang akan diingat, melainkan seberapa baik amanah itu kita jaga.
Tidak semua nasihat langsung berbuah. Ada yang tumbuh pelan-pelan, bekerja diam-diam di dalam diri. Jika tulisan ini membuatmu berhenti sejenak dan berpikir ulang, mungkin benih itu sudah mulai tumbuh.
Menyemai nasihat, menuai kebijaksanaan.

0 Komentar