Advertisement

Menerima Iklan

Hidup Bermasyarakat Harus Dinamis: Sekeras-kerasnya Harus Bisa Pengertian, Selemah-lemahnya Harus Bisa Tegas

Hidup bermasyarakat adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Setiap hari, kita berinteraksi dengan orang-orang yang latar belakangnya berbeda, cara berpikirnya beragam, dan kepentingannya tidak selalu sejalan dengan kita. Di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, organisasi, hingga ruang publik, perbedaan pendapat dan cara bersikap adalah hal yang wajar. Namun, tidak jarang perbedaan itu justru melahirkan gesekan, kesalahpahaman, bahkan konflik yang berkepanjangan. Fenomena ini menunjukkan bahwa hidup bersama orang lain menuntut kemampuan beradaptasi yang tidak sederhana.

Ada kalanya kita bertemu dengan orang-orang yang keras dalam berbicara dan bersikap. Ada pula yang terlalu lembut hingga sulit menyatakan pendirian. Dalam keseharian, kita sering melihat dua ekstrem ini saling berhadapan: satu pihak ingin menang sendiri, sementara pihak lain memilih diam meski merasa dirugikan. Ketika keseimbangan ini tidak terjaga, kehidupan bermasyarakat menjadi kaku, tidak sehat, dan kehilangan rasa keadilan. Dari sinilah pentingnya memahami bahwa kehidupan sosial bersifat dinamis, bukan hitam putih.

Nasihat utama yang patut direnungkan adalah bahwa hidup bermasyarakat harus dinamis: sekeras-kerasnya kita harus bisa pengertian, selemah-lemahnya kita harus bisa tegas. Kalimat ini mengandung gagasan bahwa manusia tidak bisa hidup hanya dengan satu sikap tetap. Ada waktu untuk bersikap keras, ada waktu untuk melunak. Ada saatnya memahami, ada saatnya menetapkan batas. Dinamika inilah yang menjaga keseimbangan dalam hubungan sosial.

Makna penting dari nasihat ini terletak pada kemampuan menempatkan diri secara proporsional. Sikap pengertian bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan emosional. Dengan pengertian, kita mampu melihat persoalan dari sudut pandang orang lain, memahami latar belakang tindakan mereka, dan meredam konflik sebelum membesar. Pengertian membuat kita tidak mudah menghakimi dan tidak terburu-buru menyimpulkan.

Di sisi lain, ketegasan adalah pagar yang menjaga martabat dan prinsip diri. Tanpa ketegasan, sikap pengertian bisa berubah menjadi pembiaran. Tanpa batas yang jelas, kebaikan hati justru dimanfaatkan. Ketegasan membantu kita menyampaikan sikap secara jelas tanpa harus bersikap kasar. Ia mengajarkan bahwa menghargai orang lain tidak berarti mengorbankan nilai yang kita yakini.

Keseimbangan antara pengertian dan ketegasan inilah yang membuat kehidupan bermasyarakat menjadi sehat. Terlalu keras tanpa pengertian melahirkan konflik dan jarak sosial. Terlalu lunak tanpa ketegasan menumbuhkan ketidakadilan dan ketidaknyamanan. Dinamika ini menuntut kepekaan situasi, kematangan berpikir, dan kemampuan mengelola emosi.

Refleksi personal menjadi langkah penting untuk memahami nasihat ini secara nyata. Setiap orang dapat bercermin pada pengalamannya sendiri: apakah kita lebih sering bersikap keras tanpa mau mendengar? Ataukah kita cenderung mengalah meski hati merasa tertekan? Pernahkah kita menyesal karena terlalu tegas hingga melukai, atau terlalu pengertian hingga merugikan diri sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita mengenali kecenderungan sikap yang selama ini kita pelihara.

Dengan mengenali diri, kita bisa mulai belajar menyeimbangkan sikap. Bersikap pengertian bukan berarti mengiyakan semua hal, dan bersikap tegas bukan berarti memusuhi. Keduanya bisa berjalan beriringan jika dilandasi niat baik dan komunikasi yang jujur. Ketika orang lain melihat ketegasan yang disampaikan dengan pengertian, rasa hormat justru lebih mudah tumbuh.

Pada akhirnya, artikel ini bukanlah rumusan baku tentang bagaimana seharusnya bersikap, melainkan undangan untuk lebih sadar dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Ia mengajak kita berpikir bahwa dinamika sosial membutuhkan kelenturan sikap, bukan kekakuan prinsip yang kering dari empati. Dengan kesadaran ini, kita dapat menciptakan ruang sosial yang lebih adil, hangat, dan bermartabat.

Mungkin dengan belajar menjadi pengertian tanpa kehilangan ketegasan, kita sedang berkontribusi pada masyarakat yang lebih sehat. Bukan masyarakat yang serba keras atau serba lemah, melainkan masyarakat yang mampu menempatkan sikap secara bijak sesuai dengan keadaan.

Tidak semua nasihat langsung berbuah. Ada yang tumbuh pelan-pelan, bekerja diam-diam di dalam diri. Jika tulisan ini membuatmu berhenti sejenak dan berpikir ulang, mungkin benih itu sudah mulai tumbuh.

Menyemai nasihat, menuai kebijaksanaan.

Posting Komentar

0 Komentar